Menebar tanpa Menuai Ketakutan..

Posted: May 9, 2009 in Ndak Jelas (Blurry)

Teman, aku ingin bercerita tentang sebuah ketakutan..

Tapi tolong jangan disalahkan artikan dulu ya..

Ini bukan sebuah cerita horror..hanya beberapa penggal pengalaman hidup biasa..

#1

Dahulu sekali, ketika aku masih berumur 5,5 tahunan, aku adalah seorang anak kecil yang memiliki ketakutan yang terbilang aneh. Aku adalah orang yang  paling takut luar biasa pada polisi, pada tentara dan pada semua orang yang berpakaian seragam ala militer, bahkan aku takut pada tukang parkir, tukang sampah dan petugas terminal..

Pernah suatu hari, orangtuaku mengajakku untuk pergi ke terminal, mengantarkan kakak iparnya yg baru saja menjenguk kami ke Bandung. Tau gak apa reaksiku??  Waktu itu dengan spontan aku menolak mentah2 tawaran itu..dan memilih untuk tinggal sendiri dikontrakan kami di jalan Jatihandap..Sebuah pilihan yang tentunya gak mungkin dikabulkan oleh orangtuaku saat itu..

Berbagai carapun mereka tempuh untuk membujukku..namun semua nihil tanpa hasil..

Hingga akhirnya Pa Tantan, demikian aku memanggil kakak ipar orangtuaku itu, ngomong  “Do, Jangan takut, pangkat Papa lebih tinggi dari semua polisi yang ada di Bandung ini, kalo ada yg macam2 biar Papa tembak nantik!! ”, Gertaknya (sembari megang sesuatu di pinggangnya yang kukira emang pistol waktu itu)

Gatau kenapa seketika itu aku seperti tersihir oleh omongan Beliau..dan berangkatlah aku akhirnya  dengan segenap keberanian di hati.

Sampai pada saat dimana Papa Tantan melambaikan tangannya di terminal yg sontak membangkitkan kembali rasa takutku yg sebenarnya tadi sudah mati.

Menggigil  di dalam mobil sepanjang perjalanan terminal-kontrakan..Cuma itu yg bisa kulakukan..

Orangtuaku cuma bisa geleng2 kepala, terpaku melihat kondisiku yg demikian..

Kedua orangtuaku yang ternyata risau dengan kondisi mental anaknya tersebut kemudian merencanakan suatu rencana…

Esok harinya, ibuku mengajakku ke sebuah toko es krim di simpang Cicaheum, toko es krim favoritku, (gatau nih masi ada pa gak sekarang..)

Tanpa babibu akupun pergi bersamanya..

Selepas memilih es krim yang aku suka  kamipun pulang.

Cuma ada yang aneh, kali ini ibuku memilih rute yang berbeda untuk jalan pulang. Yah, karena waktu itu namanya juga anak kecil, akupun ikut2 aja, ga banyak mikir. Taunya cuma makan es krim cup yang ada di tangan.

Tanpa sadar, sembari jalan ternyata ibuku telah menggiringku ke kantor polisi!! (Aaaarrrrrghhh!!!)

Es krim yang tadinya terasa begitu nikmat, menjadi terasa hambar di lidahku yang kaku..

Rasanya ingin lari tapi gatau kmana, meninggalkan ibuku di situ bersama orang yang paling kutakuti..

Ibukupun akhirnya ngomong dengan nada sedikit rendah  pada sang Polisi..

Polisi itupun ngangguk2..

Lalu perlahan si Polisi ini mendekatiku..

“Edo Ya??” Tanya polisi itu dengan ramah memulai pembicaraan ( sambil jongkok mengusap-usap rambutku..)

………………………………………………………………………………………………………

……………………………………………………………………………………………………..

Akhirnya berceritalah panjang lebar polisi itu tentang profesinya. Cerita yang akhirnya merubah pandanganku tentang  profesi makhluk berseragam dan berpistol itu selamanya. .

#2

Aku lupa tepatnya kapan. Kalo ga salah sih waktu aku masih SD Kelas 5.  Jadi waktu itu aku lagi mudik lebaran bersama keluargaku di Lubuk Jambi. Sebuah kota kecil di dekat dengan perbatasan Sumbar-Riau.

Pagi itu niatnya sih mw metik jeruk yang memang letaknya ga begitu jauh di belakang rumah nenek. Tapi niat itu terhenti seketika saat aku melihat jejak2  seperti jejak kaki kucing tapi dalam ukuran yang sangat besar  masih basah di lumpur, berseliweran di sekitar kebun jeruk. Ayahku yang kebetulan berada di situ kemudian dengan tenangnya bilang itu cuma jejak kerbau. Rasa penasaran masih bersemayam. Hingga akhirnya Ayahku memberitahukan fakta yang sebenarnya.

Jejak tadi itu ternyata memang bukan jejak kerbau..tapi jejak harimau!! (tepat seperti yg kupikirkan)

Memang di sekitar kampungku penampakan sang kucing raksasa bukanlah pemandangan luar biasa.

Sembari memastikan tidak ada masalah dengan kandang ayam di belakang, Ayahku berujar ,”Nak, kalo kau lihat  ada harimau yang makan ayam kita, biarkanlah…mungkin dia lapar”,

“Tapi kalo suatu saat kau lihat adikmu dibawa harimau..,ambil parang,Kejar!!” ,ujarnya setengah berteriak.

Aku terdiam dgn statemen itu..

#3

Kalo yang ini kejadiannya sekitar SPMB..

Jadi lagi pusing2nya mau milih jurusan..,antara kuliah di Pekanbaru atau di Jawa..

Sebuah keputusan akhirnya tercetus “Ma, Edo mau kuliah ITB..”

Ya, keputusan yang berat bagiku maupun kedua orangtuaku..terutama sekali ibuku..

Namun, kali ini keputusanku tidak dapat lagi dibendung oleh orangtuaku..

Karena aku yakin dia juga memikirkan yang terbaik untukku..

Hingga  pada tanggal 5 Agustus 2006, Kami berdua melihat pengumuman di sebuah media cetak lokal..dan menemukan 106-16-01647, nomor peserta SPMB ku dinyatakan lulus diterima di Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan (FTSL) ITB.

Sebuah pencapaian yang boleh kubilang wah bagiku yg sebenarnya bukan orang yang tepat untuk jurusan IPA sekalipun..

Saat itu aku melihat ibu berurai airmata memelukku,

Uraian air mata yang sama terlihat ketika ia melepas kepergianku ke Bandung..

Tangis yang kuyakini hingga saat ini sebagai sebuah tangis bahagia..

#4

…………………………………………………………………………………………………………..

Dari sepenggal pengalaman di atas, aku menyadari  teman..

Ternyata selama ini  aku melihat dan menjustifikasi rasa takut dengan mata, kuping dan lubang hidung yang kututup sebelah..lalu kulisankan sebagai takut. Padahal aku sendiri tidak mengenal apa yang aku takuti  (1)

Harusnya aku bisa melihat takut sebagai dua buah mata pisau. Takut yang justru bisa membunuh takut2ku lainnya. Takut akan kehilangan keluarga, takut akan kehilangan orang2 yang aku cintai. (2)

Takut akan mengecewakan harapan orang2 yang aku cintai.(3)

Takut..

Di luar lingkup keluarga, ternyata di luar sana ada begitu banyak takut2 lainnya, Teman..

Ada orang yang karena takut anaknya tidak dapat makan dan bersekolah, kemudian membunuh takutnya pada hukum..

Ada orang yang takut harga diri dan martabatnya diinjak2 hingga ia menghilangkan rasa takutnya untuk membunuh dan kehilangan saudaranya sesama manusia..

Ada orang yang takut negaranya dibelenggu penjajahan, hingga akhirnya  ia mengabaikan takutnya pada mortir dan meriam..

Ironis..ternyata sebenarnya sang pemberani adalah seorang penakut di satu sisi..

Dunia ini sebenarnya disusun oleh rasa takut teman, salah satu penyusun emosi yang seharusnya tidak boleh kita abaikan begitu saja..rasa yang harus kita mengerti satu sama lain..dan kita carikan solusinya..

Terkadang kita menjustifikasi seorang penakut sementara kita sendiri tidak begitu yakin bahwa mereka sebenarnya menakutkan apa..

Kita terlalu pongah mengatakan diri kita berani, padahal kita sendiri gak sadar bahwa kita sebenarnya boleh jadi  seorang penakut..

Takut kehilangan sesuatu..kehilangan sesuatu yang mungkin sifatnya sementara..

Jatuhlah kita pada posisi di mana kita menjadi pejuang rasa takut bagi diri kita sendiri..

Menjadi sebuah ketidakadilan  ketika sebuah takut dijudge dan dijudge dengan kondisi yang tidak cover both side..

Takut..

Takut itu bisa berevolusi  menjadi momok..

Takut itu bisa berevolusi menjadi jijik..

Takut itu bisa berevolusi menjadi benci..

Takut itu bisa berevolusi menjadi taat dan patuh..

Takut itu bisa berevolusi menjadi semangat dan pengorbanan..

Takut itu bisa berevolusi menjadi taqwa..

Hingga akhirnya rasa takut2 itu mengantarku pada rasa takut pada diri sendiri. Takut ketika diri ini menjadi tidak seperti apa yg diri ini dan orang lain harapkan. Takut..Ketakutan2 yang aku harapkan dapat mengantarku pada rasa takutku kepada Tuhan..

Maafkan aku ketika aku terlalu takut, Teman..

Maafkan aku ketika aku terlalu berani..

Maafkan aku ketika aku tidak pada kadarku..

Maafkan aku ketika aku tidak pada kaderku..

Maafkan aku ketika aku tidak pada qadarku..

Comments
  1. Dunia ini sebenarnya disusun oleh rasa takut — rasa takut dari siapa??ketakuatan siapa atas apa??

    wheww..baru baca..

  2. silenceraloner says:

    Wah susah pertanyaannya..,
    rasa takut dari manusia kali ya??

    Kalo atas apa..??
    keknya tiap orang bakal punya jawaban beda,Dee..

  3. hmm ketika lu bicara tentang DUNIA ini sebenarnya disusun oleh rasa takut..dunia yang mana do yang lu maksud??

    manusia memang punya rasa takut yang berbeda..rasa takut pada “dunia”nya..bukan duniaNYA.

    hehehe ngopi dulu ahhh.. x)

  4. silenceraloner says:

    no komen ah!!
    hehe..

  5. kangmas toro says:

    ohh,,gw baru paham istilah “takut bertanya,sesat di jalan..”… ternyata gw udah jadi seorang pemberani saat berani nanya di “tengah ” jalan.. :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s