Ketika Judgement Di-judge tidak Adil

Posted: March 19, 2010 in agama, life
Tags: , ,


Pengertian Judgement (Justifikasi)
Kalo boleh mengartikan secara bebas, maka saya secara subjektif akan mendefinisikan Judgement atau Justifikasi sebagai tanggapan atau respon dari seseorang terhadap informasi, data, input atau apapun yang ditangkap panca indra maupun perasaan mereka. Berhubung justifikasi sangat erat kaitannya dengan sudut pandang (perspektif) seseorang, maka tidak ada justifikasi dengan nilai kebenaran absolut, kecuali kebenaran relatif.
Sebagai contoh :
Anggaplah terdapat 3 orang mahasiswa, S (scientist), E (engineer), dan A (artist). Kepada mereka diberikan 3 buku yang sama berjudul “Kalkulus Elementer”. Setelah membaca, maka dalam kasus normal, hanya mahasiswa S yang akan mengecap buku tersebut sebagai bacaan yang menarik. Mahasiswa E barangkali hanya melihat sepintas kemudian berkata “Not Bad!, rumus mana yang bisa saya pakai??” . Sementara untuk mahasiswa A, saya sendiri tidak yakin yang bersangkutan akan membacanya. Baginya buku tersebut mungkin lebih terlihat seperti kanvas yang siap dicoret-coret atau bantal tempat berbaring merenungkan cara merealisasi ide-ide gila dan kreatif di kepalanya. Ok, saya bukan psikolog, tapi kurang lebih demikianlah perspektif saya mengenai pemahaman akan sebuah kata “justifikasi”
Justifikasi Haram??
Setau saya tidak ada fatwa MUI yang menyatakan Justifikasi dilarang. Malah saya berpikir sebuah justifikasi adalah hak asasi setiap manusia.
Kita tentunya sangat familiar dengan quote “Don’t judge a book by it’s cover”. Sepintas kita akan menangkap terdapat larangan menge-judge sesuatu, dalam quote ini. Namun, jika dicermati lebih dalam ternyata sebenarnya terdapat fungsi syarat di situ “by it’s cover”. Dengan kata lain tersirat arti bahwa “You can judge a book by reading it’s content”. Nah, bagaimana menurut Anda?? Apakah Anda akan menjudge jeruk purut atau jeruk nipis manis (semanis jeruk madu) setelah mencicipi bulir jeruknya?? Itu hak Anda.
Paradigma Negatif Sebuah Justifikasi
Kebanyakan pemikiran menyebutkan bahwa tindakan justifikasi memiliki konotasi makna negatif.
Banyak orang yang merasa tidak senang ketika dirinya di-judge oleh orang lain. Okelah, dari konteks kalimatnya ketahuan jika orang yang merasa tidak senang tersebut telah dijustifikasi negatif oleh seseorang lainnya. Padahal justifikasi tidak melulu terkait hal-hal negatif. Justifikasi berbicara benar dan salah, justifikasi berbicara baik dan buruk (sesuai-tidak sesuai), bahkan justifikasi berbicara tentang indah dan tidak indahnya sesuatu. Nalar dan emosi manusia terlibat di sini. Lantas kenapa kita melarang orang melakukan tindakan justifikasi??
Bukankah ketika Anda mengatakan seseorang men-judge Anda tidak baik ,secara tidak langsung Anda juga telah men-judge orang tersebut telah men-judge Anda tidak sesuai dengan harapan yang Anda inginkan??
Justifikasi itu Perlu
Pertama saya ucapkan selamat datang di dunia manusia, dunia di mana derajat seseorang tidak semata-mata dipandang dari derajat taqwanya. Ada ribuan atau bahkan mungkin jutaan variable yang dinilai oleh manusia. Ya, karena manusia bukan Tuhan. Ini adalah dunia di mana dosen men-judge mahasiswa dengan nilai, masyarakat men-judge perilaku seseorang dengan norma, hakim men-judge tersangka dengan barang bukti dan saksi.
Judgement ( justifikasi ) adalah adalah tools dalam pengambilan keputusan. Apa kata dunia bila kita tidak dapat menjustifikasi??. Tanpa justifikasi akan terjadi chaos, di mana tidak ada keputusan yang jelas akan sesuatu.
Contoh : Seorang sarjana teknik sipil disuruh mendesain rencana dimensi balok dan kolom suatu bangunan berlantai 3. Lantas dengan sekonyong-konyong keluar dimensi balok 1 m x 1 m dan dimensi kolom 2 m X 2 m. Owner akan men-judge, “Buset dah, salah pilih orang gw..tukang kebon gw Tukimin mah juga bisa kalo kaya gini hasilnya!”. Ya, sarjana sipil di atas akan dicap “tidak pintar” karena ketidakmampuannya menjustifikasi berdasarkan ilmu dan pengetahuan yang telah dia peroleh.
“Orang juga bisa di-judge karena ketidakmampuannya melakukan justifikasi”
Contoh : Karena tidak mampu memutuskan mana yang prioritas dan mana yang bukan, seseorang dengan kemampuan ekonomi pas-pasan memutuskan untuk mengkredit Merc S Class terbaru (kebutuhan tersier). Justifikasi Anda?? (Anda boleh men-judge atau memilih guagakmautau )
Melihat lebih luas, Sang Pencipta membekali manusia dengan nalar dan emosi untuk menjalani hidup. Seperti yang Anda tahu, hidup adalah pilihan (saya sampai bosan mendengarkan massa kampus mengelu-elukan slogan ini ). Terkadang Anda harus melakukan tindakan justifikasi untuk menetapkan pilihan yang tepat untuk Anda. Di sinilah logika dan perasaan berembuk untuk menentukan keputusan apakah yang terbaik untuk diri kita. Subjektif menurut saya, kita tidak dapat membiarkan keadaan kita “Let it flow”. Mengalir kemana hidup Anda, ke laut atau ke comberan?? So, Butuh justifikasi untuk menentukan arah hidup. Tanpa justifikasi semuanya akan mengambang gak jelas. (Taukah Anda disebut apa benda berwarna kuning yang mengambang pada aliran sungai??) Hahahaha…
Justifikasi yang Dilarang
Walau bagaimanapun, justifikasi tidak dapat lepas dari apa yang disebut sebagai norma dan peraturan. Keseluruhan perspektif yang ada digembleng dalam suatu aturan yang disepakati bersama baik tertulis (peraturan ) maupun tidak tertulis (norma) untuk kepentingan bersama. Justifikasi menjadi tidak legal sesaat ketika justifikasi itu melenceng dari norma dan peraturan ini. Sbg contoh :
Menuduh tanpa bukti (fitnah)
Penghakiman massa
Tindakan anarki
Menyikapi Justifikasi
Tidak semua orang punya mental yang kuat menghadapi sebuah justifikasi (termasuk saya), baik itu justifikasi positif maupun justifikasi negatif. Berapa kali kita mendapat pujian (justifikasi positif) dan lantas pujian tersebut menumbuhkan bibit keangkuhan di hati kita??
“Eh, Kamu pintar ya!”
“Eh, Kamu ganteng ya!”
“Eh, Mobilnya bagus, beli di mana??” (Ya,di showroom lah..nenek gw juga tau)
Lebih terdengar seperti ujian daripada pujian. Gak munafik, saya juga suka merasa superpower ketika ada yang memuji saya. Makanya pliss..,jangan buat saya GeeR..Hahahaha..
Sekarang sebaliknya, berapa kali kita mendapat justifikasi negatif??
“Eh, Kalian bodoh banget sih!”
(asisten mekflu saya ,sebut saja namanya Merry, pernah melakukan hal ini pada kami para praktikannya…Ups, nyantai Kak, peristiwa ini gak kami masukin di hati kok, cuma disimpan di long term memory saja..Hahahaha..)
“Ah, pembenaran lu aja itu mah!”
“Kurang ajar banget si Lu!”
“Munafik Lu!”
“Autis!”
“Gas sus kuliat!”
Dari sekian “teguran” di atas, kuping siapa yang gak akan panas mendengarnya?? (kuping yang malfungsi, kuping dewa sama kuping gajah mungkin tidak). Sudah semestinya kita meyakini bahwa ternyata manusia diuji tidak hanya dengan justifikasi positif tetapi juga dengan justifikasi negatif.
Saya pernah mendengar orang bijak berkata, “Ketenangan batin tidak akan pernah kita peroleh ketika kita hidup hanya untuk penilaian, penghargaan, dan pengakuan dari orang lain, ketenangan hanya datang dari Allah semata Sang Pemilik hati.”
Lantas kenapa rupanya kalo ada yang men-judge kita negatif?? Bukankah itu sebuah bentuk Kontrol sosial?? Slogan pemerintah mengatakan,” Kalo bersih kenapa risih??” Kenapa kita harus ambil pusing dengan perspektif/ justifikasi orang lain terhadap kita, yang kita yakini tidak demikian adanya. Lain cerita dalam konteks ranah hukum, Anda dapat melakukan pembelaan dan bahkan banding jika proses peradilan dianggap tidak adil terhadap Anda.
Kalaupun justifikasi negatif orang terhadap kita itu benar adanya, semestinya kita berterima kasih pada Sang Penggerak Hati dan Pikiran, Dia telah membukakan mata kita akan kesalahan atau kekhilafan kita. Kita pantas bersyukur, Dia hanya membukakan sebagian kecil kehinaan dari kehinaan yang menggunung di dalam diri kita. Tinggal tindak lanjut berikutnya, seberapa besar keberanian kita untuk men-judge diri kita secara jujur untuk mengakui jutaan kehinaan lainnya. Jangan tunggu orang lain melakukannya. ( Kontrol Diri vs Kontrol Sosial )
Ketika diberikan ujian, ada baiknya kita meluangkan waktu lebih banyak memikirkan solusi/ jawaban dari pertanyaan tersebut ketimbang mempertanyakan pertanyaan tersebut. Cermati soalnya sebentar, tangkap maksudnya, dan segera jawab. Jadi ketika ada justifikasi, khususnya justifikasi negatif, mestinya kita menganggap itu sebagai pertanyaan yang mesti kita jawab dengan evaluasi diri. Bukan lantas kita mempertanyakan dan menjustifikasi balik orang yang men-judge kita toh??
Bahkan Tuhan pun di-judge oleh hamba-Nya.
Dari sekian banyak hamba yang melantunkan dzikir, memuji keagungan Sang Khalik. Tidak sedikit juga hambanya yang men-judge Dia sebagai Tuhan yang tidak adil. Bagaimana sikap Allah menyikapinya?? Dalam nalar manusia saya, saya yakin Dia tidak lantas akan menjatuhkan azab pada orang yang men-judge-Nya. Dia dengan segala Keagungannya yang dimiliki-Nya tidak akan kehilangan tahtanya oleh hal sesepele itu. Justru, Dia akan menunjukkan kebenaran pada mereka-mereka yang menyangsikan kebijakan-Nya. Sungguh Maha Mulia akhlak Allah.
Allah dengan keMahaan-Nya saja dijudge, bagaimana manusia dengan segala kefanaannya??
Terkadang orang lain lebih mengenal diri kita ketimbang diri kita sendiri, saatnya intronspeksi dan evaluasi diri..
Judgement Day sudah dekat Yuk, sama-sama judge diri kita masing2.. Hehe..

PS : “Katakan kebenaran meskipun itu pahit”

Sumber gambar : http://crystalmagicandtarot.wordpress.com

Comments
  1. .gome says:

    Pembahasan yang bagus…

  2. Ali muklis says:

    Sepakat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s