Lingkaran Setan Pembangunan Infrastruktur Jalan di Indonesia

Posted: March 24, 2010 in civil engineering
Tags: , ,

Dari dulu di kampus sering dikemukakan yang namanya isu Pembangunan Infrastruktur yang Berkelanjutan (Sustainable Infrastructure / Sustainable Development). Tapi pada kenyataannya di lapangan, isu tersebut belum begitu nyaring terdengar. Sebagai contoh saja infrastruktur jalan di kota besar seperti Bandung, hampir di beberapa ruas jalan yang ada kita temukan permasalahan-permasalahan seperti : retak (cracking), gelombang (corrugation), lubang-lubang (pothole), alur (rutting), hingga jalan yang tergenang di musim hujan (drainase).

Permasalahan seperti ini mestinya tidak terjadi andai saja pembangunan jalan memang ditujukan dengan niat mulia memenuhi kebutuhan publik akan transportasi. Ada kriteria desain, spesifikasi dan umur rencana baku yang mesti ditaati di dalamnya. Ketika terjadi pembangunan jalan yang menyimpang dari niat tersebut (ex : muatan politis), akibatnya perbaikan jalan hanya bersifat sementara dan tidak berkelanjutan sama sekali. Anda pasti tau, tidak sedikit overlay (perbaikan jalan dengan penambahan lapisan aspal) yang terkelupas sesaat setelah muatan politisnya tercapai. Pemenuhaan kebutuhan ini hanya pemenuhan kebutuhan segelintir orang yang sifatnya fragmatis, tidak memikirkan kebutuhan publik secara keseluruhan. Belum lagi masuk unsur kongkalikong antara mereka yang mencoba meraup untung lebih dari hajat orang banyak ini. Tambah ribet kan masalahnya??

Akibat besarnya, infrastruktur jalan yang berkelanjutan tidak tercapai. Biaya yang tadinya mesti dipakai untuk pengembangan jaringan jalan mesti dipakai untuk biaya perbaikan jalan. Karena biaya pengembangan jaringan jalannya sudah “terdistorsi”, akhirnya pengembangan jalan menjadi alakadarnya. Korupsi lagi. Tumbuh lagi jaringan jalan yang mesti siap-siap diperbaiki tiap musim hujan, lebaran dan tiap ada kunjungan presiden disebabkan umur rencananya tidak tercapai karena tidak memenuhi syarat spesifikasi yang semestinya. Siklus ini berputar terus, sementara anggaran untuk infrastruktur jalan relatif tidak naik. Lingkaran setan kan??

Pertanyaannya, sebenarnya sekarang kita mau bikin sustainable infrastructure atau sustainable problem sih (efek aspirin)??

sampel kasus :

Ngebut nyangkut

Lubang di jalan pajajaran

jalan berlubang apa jalan hancur?

tamansari samping ITB (alur berlubang?)

kolam dadakan sebelum MCD simpang Dago

kolam lagi

lagi-lagi kolam

jalan cisitu juga bisa berlubang rupanya

alur hujan di jalan sangkuriang

Bonus :

Ini jalan atau sungai??

Jawabannya adalah jalan..Hahaha..(lokasi sama setelah hujan reda)

Comments
  1. The Queen says:

    tantangan buat orang2 sipil nih..mana putra putri terbaik bangsa ituh?

  2. silenceraloner says:

    Ehem..Here I’m Madam!

  3. journalight says:

    salut gw ed, niat banget lu motonya
    wkwkwkw

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s