UNDANG-UNDANG DAN LARANGAN BERCINTA

Posted: March 24, 2010 in berita
Tags: , , ,

Tentunya kita semua pernah melihat orang dimabuk asmara, dunia (termasuk jalan ) sudah serasa seperti milik berdua. Berjalan pelan, baik itu motor maupun mobil, melakukan hal2 yang gak pada prioritasnya dilakukan di jalan raya. Hal ini sungguh tidak wajar dan sangat mengganggu ketertiban berlalu lintas.
Wahai yang muda yang bercinta, pesan nenek : “Bercintalah pada WAKTU dan TEMPAT nya”.
Slogan ini bakal ditegakkan oleh Pemerintah Indonesia dalam waktu dekat ini guna menegakkan sikap disiplin dalam berlalu-lintas. Meski tidak disebutkan secara eksplisit, setidaknya undang-undang ini nantinya akan membuat para “pecinta jalanan” diancam pidana kurungan maupun denda .
Berikut petikan petikan pasal 283 UU No 22 Tahun 2009 :
“Setiap orang yang mengemudikankendaraan bermotor di jalan secara tidak wajar dan melakukan kegiatan lain atau dipengaruhi oleh suatu keadaan yang mengakibatkan gangguan konsentrasi dalam mengemudi sebagaimana dimaksud dalam pasal 106 ayat (1) dipidana kurungan paling lama 3 bulan dan atau denda paling banyak Rp. 750.000,00.”
Secara eksplisit memang tidak disebutkan bahwa bercinta haram dilakukan di jalan raya, akan tetapi dari makna implisit-nya polisi lalu lintas punya cukup alasan yang kuat buat menilang siapa saja yang melakukan tindakan tersebut. Tindakan yang dimaksud di sini tentu saja bukan hanya bercinta, tapi meliputi penggunaan ponsel genggam, berada pada kondisi mengantuk ataupun mabuk selama mengemudi.
Terdengar seperti merenggut hak asasi manusia??
Sebagai masyarakat yang awam, kita mestinya belajar memahami logika hukum yang seperti ini. Di sini pemerintah bukannya melarang warga negaranya untuk bercinta, tetapi mengatur bagaimana tindakan tersebut tidak merugikan pihak lainnya ( dalam kaitannya dengan kegiatan berlalu-lintas ). Biar kata Anda bercinta di jalanan dengan landasan suka sama suka, tapi bagaimana kalo tiba-tiba karena bercinta, fokus Anda berkurang (khususnya laki-laki) dan kemudian kendaraan yang Anda kemudi berjalan tanpa arah menabrak pejalan kaki atau kendaraan lainnya yang berada di sekitar Anda?? Bahkan bercintapun juga membahayakan keselamatan Anda kan??
Di sini, hukum menempatkan negara sebagai ayah yang baik bagi anak-anaknya (paternalistik). Keberadaan hukum dipaksakan demi keselamatan subjek, bukan untuk kepentingan negara.
Bahkan pada aturan penggunaan helm dan seatbelt, pemerintah menekankan pada keselamatan subjek pengguna sendiri, bukan kepentingan publik atau pemerintah.
Dari referensi yang saya baca “Pikiran Rakyat” edisi 22 Maret 2010 untuk topik yang sama dengan judul postingan ini, dijelaskan bahwa kasus kriminal dikategorikan ke dalam 2 jenis :
1. Kejahatan karena dilarang hukum (malum prohibitum/ bad as prohibited )
2. Kejahatan karena tindakan dari dalam sendirinya buruk ( malum in se / bad in it’s self )
Kejahatan semacam membunuh, mencuri, merampok, memperkosa dan lain sebagainya dapat dikategorikan sebagai tindakan kriminal kategori 2. Sementara untuk kategori 1, dapat dicontohkan dalam ilustrasi berikut : Seorang pemilik tanah memiliki lahan yang cukup lebar untuk didirikan apartemen bertingkat 50. Namun undang-undang membatasi keinginan tersebut dengan pertimbangan bahwa pembangunan apartemen tersebut akan ber DAMPAK SISTEMIK terhadap pemukiman sekitar. Bagaimana jika terjadi penurunan air tanah?? Bagaimana jika daerah tersebut merupakan kawasan bandara?? (perlu batas ketinggian bangunan). Jika terus dilaksanakan, maka akan terjadilah tindakan kriminal kategori 1.
Okelah, kembali ke hak asasi. Jangan lantang berteriak hak asasi sementara kita menginjak hak asasi orang lain. Ingat, kita punya kebebasan tapi kebebasan yang bertanggung jawab. Sama halnya dengan hak, kita punya hak yang juga dibatasi oleh hak orang lain. Tidak ada kebebasan dan hak absolut. Oleh karena itu, mari kita berhenti memikirkan kepentingan diri sendiri dan mengorbankan kepentingan orang lain. Tinggal sekarang bagaimana usaha kita bersama mensosialisasikan, menegakkan, dan mengawasi bagaimana undang-undang ini dapat berjalan sebagaimana mestinya, demi tercapainya sense of order (rasa keteraturan ) dalam berlalu-lintas.

sumber gambar di sini

Comments
  1. […] Sebelumnya, mungkin ada baiknya para pembaca melakukan studi literatur terlebih dahulu , atau kalo tidak mau repot bisa cek tulisan saya yang ini. […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s