Membangun Karakter Bukan Membatasi Karakter (Hidup bukan Twitter)

Posted: May 30, 2010 in ITB, life
Tags: ,


Orang-orang tua dulu bilang,”KNOWLEDGE is POWER, but CHARACTER is MORE!”

Berangkat dari quote di atas, yang notabenenya hanyalah sebuah sudut pandang, kita dapat menyimpulkan bahwa karakter menempati hierarki yang lebih tinggi ketimbang sebuah pengetahuan.

Bukan bermaksud merendahkan orang berilmu, justru karena pengetahuan dan karakter adalah cabang dari “Ilmu” itu sendiri, yang semestinya bersinergi satu sama lain, maka keduanya harus sama-sama diasah secara terus menerus demi perkembangan mental seorang individu. Bagaimanapun ceritanya, orang berilmu lebih tinggi beberapa derajat ketimbang orang yang tidak berilmu,toh..??

Adalah sebuah hal yang lumrah, jika seorang manusia cendrung menginginkan manusia lainnya seperti yang dia inginkan. Kecendrungan yang kemudian dijadikan “Ayat” yang biasa kita pakai untuk menghalalkan kita membatasi karakter orang lain sementara di satu sisi mengagungkan karakter kita sebagai masterpiece karakter paling sempurna. Sayangya, karakter seperti ini kerap membuat kita terjerumus pada individu-individu bermental picik dan enggan untuk belajar (jauh dari mental manusia pembelajar).

Untuk orang-orang dengan pemikiran ter-frame, pembatasan karakter mungkin bukanlah hal yang luar biasa. Namun bagaimana dengan orang-orang dengan pemikiran tak terframe (freedom mind)??, Pembatasan karakter hanya akan menjadi tali kekang yang memasung pemikiran mereka.

Kita menyadari bahwasannya tidak semua manusia mengetahui apa yang terbaik buat dirinya. Oleh karena itulah terkadang dibutuhkan sosok seorang pemimpin yang mampu “mengatur” dan mengayomi tiap-tiap manusia tersebut. Di lain sisi, pada hakikatnya manusia bukanlah makhluk yang suka diatur-atur. Terutama sekali pada manusia dengan karakter dominan. Alangkah baiknya jika kepada individu-individu seperti ini diberikan beberapa pilihan yang tentunya akan membuat mereka merasa memiliki keleluasan pemikiran dalam pembangunan karakter mereka sendiri (proses pembinaan karakter).

Berbeda dengan pembinaan karakter, pembatasan karakter hanya akan melahirkan para pembangkang. Kalaupun metode tersebut berhasil, pembatasan karakter hanya akan menelurkan individu dengan mental macan sirkus, kerbau dicucuk hidung, individu dengan mental baling-baling di atas bukit dan bahkan individu-individu bermental praktis yang siap hengkang ketika kepentingannya sendiri tidak lagi terpenuhi. Jangan mengharapkan sebuah ketaatan hakiki dengan pembatasan karakter di dalamnya.

Saya akan mengambil analogi tentang cara beberapa orang dalam menulis sebuah tulisan :
-Seorang Pujangga (sastrawan) : “Tidak ada kutip-mengkutip!, semua tulisan mestinya adalah sesuatu yang murni keluar dari dalam hati dan pemikiran sendiri!”
-Seorang Scientist/Engineer : “Tulisan tanpa ‘referensi’, seperti sayur tanpa garam!”
-Seorang Kaskuser : “No Pic Hoax Gan!!” (hehe..)

Yang benar yang mana??

Pada kasus ini, tidak seharusnya kita memberi cap mana yang benar mana yang salah di sini. Alangkah baiknya lagi, jika tiap kita mampu menjadi individu yang berhati pujangga namun juga berotak scientist atau engineer sekaligus. Tinggal mengatur bagaimana dan kapan kita harus memposisikan masing-masing karakter tersebut (mawas diri).

“Hidup bukan twitter dengan 140 karakter, Teman..”

Tidak bisa kita pungkiri, kita hidup dalam kompleksnya keberagaman. Apa yang bisa kita harapkan saat ini hanyalah harmoni dan keteraturan dalam merangkai segala perbedaan yang ada. Bukan sebuah keseragaman dalam konteks pemikiran. Keberagaman ini harusnya memperkaya karakter dan pengetahuan kita, membuat kita belajar bagaimana memahami dan empati terhadap orang lain. Tidak hanya memikirkan diri sendiri (termasuk di dalamnya perasaan diri sendiri).

Berhentilah menjadi orang yang senatiasa disuapi (jadilah mandiri secara intrapersonal), jadilah orang-orang yang memberi dan bermanfaat satu sama lain (jadilah kuat secara interpersonal). Dengan adanya upaya membangun karakter satu sama lain, diharapkan kita dapat membangun bangsa kita yang hampir kehilangan jati diri ini menjadi bangsa dengan kepribadian yang jauh lebih kuat dan lebih tangguh lagi ke depannya.

Jangan pernah membatasi karakter seseorang jika kita tidak tahu apa yang terbaik buat diri mereka. Salah-salah hal ini hanya akan membunuh karakter mereka. Apa yang harus kita lakukan seharusnya justru adalah membina karakter mereka (dimulai dari karakter diri sendiri) dan melindungi mereka dari tindakan-tindakan membunuh karakter orang lain, maupun membunuh karakter mereka sendiri. Tunggu apa lagi?? Mari membangun karakter!!

Sama-sama Kita Renungkan

Apakah yang sudah kita bangun, karakter (kepribadian) atau hanya sebuah imej (pencitraan)??

Comments
  1. dhimasln says:

    etdah,, ada quotesnya kaskuser. haha

    No Pict = Hoax
    w/ Pict = Sotosop
    :mrgreen:

  2. silenceraloner says:

    Widiw..ada kaskuser yang komen juga nih..Hehe
    Thx for visit Mas..^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s