Menulis : Antara Manusia dan Manuskrip

Posted: June 23, 2010 in budaya
Tags:

Pernahkah terbayang di benak kita semua, hidup di zaman pra-sejarah??
Zaman dimana eksistensi sebuah tulisan sebagai bukti otentik sejarah kehidupan dipertanyakan keberadaannya.

Bagaimana mereka bersosialisasi satu sama lain??

Bagaimana mereka membangun peradaban??

Bagaimana mereka mampu bertahan dari kerasnya hidup??

Andai saja manusia pra-sejarah telah menemukan tulisan, tentu saja pertanyaan semacam ini tidak akan pernah muncul.

Berbekal sejumlah ilmu pengetahuan yang ada saat ini seperti biologi, geologi, antropologi, arkeologi, dsb, apa yang bisa dilakukan manusia sekarang (yang notabenenya adalah manusia sejarah), hanyalah mengeksplorasi, merekonstruksi, mengidentifikasi, menginterpretasi serta menganalisis sejumlah peninggalan mereka, baik yang berupa bangunan, alat-alat, maupun tulang belulang. Semua itu dilakukan hanya demi mempelajari kehidupan di masa lampau.

Lantas bagaimana sekarang??
Manusia moderen mestinya bersyukur telah melewati kelamnya zaman tanpa aksara. Perkembangan yang begitu pesat di bidang komunikasi, seolah telah meniadakan kuasa ruang dan waktu yang selama ini membatasi manusia. Akses terhadap sebuah komunikasi lisan maupun tulisan sudah sedemikian mudahnya. Tidakkah semua ini memfasilitasi manusia dalam berbagi pikiran satu sama lain??

Seorang manusia saat ini tidak harus berkunjung ke Prancis untuk mengetahui kokohnya menara Eifel, jalan-jalan ke Italia untuk mengetahui seberapa miringnya menara Pisa, atau tur ke Jerman hanya untuk memastikan bahwa tembok Berlin pernah berdiri di sini.
Bahkan manusia saat ini tidak harus repot berdesak-desakan ke Afrika Selatan, demi menonton Piala Dunia 2010. Cukup duduk manis di depan televisi maupun internet, Anda telah menjadi orang yang serba tahu segala sesuatunya mengenai seluk beluk Piala Dunia 2010. Dunia secara tidak langsung menjadi sempit tanpa kita sadari.

Hubungannya dengan menulis??
Jika semua manusia berpikir hanya untuk menjadi penikmat, maka kelak dunia ini akan kembali kepada masa kelamnya. Warisan nilai-nilai luhur para pendahulu perlahan akan musnah. Generasi mendatang terancam kehilangan arah hidup dan jati diri mereka.

Begitu juga dengan tulisan, meski dikategorikan sebagai sebuah komunikasi satu arah, namun dewasa ini telah dikenal secara meluas istilah umpan balik (feedback).
Dengan adanya umpan balik ini diharapkan terjadi komunikasi efektif yang membangun satu sama lain dalam sebuah tulisan.

“Jangan hanya menyerap, mari kita radiasikan apa yang menjadi buah pemikiran kita!”

Kita tidak lagi hidup di jaman di mana segala sesuatunya harus di tulis dengan tangan. Kita tidak lagi hidup di zaman batu dan daun lontar sebagai media penulisan. Segalanya sesuatunya telah dimudahkan, kenapa masih sungkan??

Pengertian manuskrip saat ini perlahan meluas menjadi segala bentuk naskah tertulis yang dibuat manusia baik terkait ilmu pengetahuan, kesusasteraan, undang-undang, ketatanegaraan dan lain sebagainya. Tentu saja karya tulis semacam tugas akhir, tesis, disertasi maupun skripsi juga termasuk di dalamnya.

Kenapa terkadang kita masih enggan untuk menulis??
Saya yakin tiap kita adalah orang yang suka berbagi satu sama lain. Siapapun yang membaca tulisan ini , tentunya adalah orang yang telah dibekali ilmu yang cukup untuk sekedar menulis sebuah tulisan.

Permasalahan yang umum justru adalah ketiadaan keberanian untuk mengutarakan sebuah gagasan. Ketidakmampuan mengolah teks terkadang mengekang keinginan kita untuk menyampaikan sebuah konteks. Ada sebuah ketakutan bahwa apa yang kita sampaikan adalah salah.

Semestinya bukan di situ letak poin pentingnya..,

Justru dengan tulisan, kita dapat memperkaya wawasan dan pengetahuan (diri sendiri dan orang lain). Tulisan adalah salah satu media yang senantiasa membuat kita belajar dan belajar. Mengasah terus-menerus mata hati dan mata pikir kita. Menguak semua misteri segala elemen di jagat raya.

Adalah wajar ketika sebuah tulisan tidak sempurna, karena manusia sang pembuatnya juga bukanlah makhluk yang sempurna (kita tidak sedang menulis kitab suci).

Setidaknya, tulisan memberikan tanggung jawab tidak tertulis kepada kita sebagai penulisnya untuk senantiasa melakukan perbaikan.

Tunggu apa lagi??
Mari menulis,

“Begins with words, we can change the world!!”

Pic Source

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s