“Peran Mahasiswa untuk Mewujudkan Kemandirian Indonesia”

Posted: June 30, 2010 in ITB, Usaha Dunia Akhirat
Tags: ,

“Jika berpikir dapat menghilangkan nafsu makan, maka saya berfikir untuk mengembalikan nafsu makan saya dengan berhenti berfikir..”
-ED-

Status fesbuk saya yang ternyata gak ngefek sama sindrom banyak pikiran saya. Saking banyaknya pemikiran di kepala, 3 kotak ide yang sengaja saya sediakan di kosan pun tidak cukup muat untuk menampungnya. Lama-lama bisa gila juga kalo ga disalurkan nih..Hehe

Ditengah fokus mengerjakan TA (Tugas Akhir), saya sekarang juga sedang multitasking menjalani serangkaian program wirausaha dari kampus tercinta ITB.
Olehteman-teman saya ditunjuk menjadi Ketua, atau lebih tepatnya koordinator dari rencana bisnis yang kami ajukan dalam Program Mahasiswa Wirausaha 2010.

Mau gak mau saya harus jadi pemimpin buat diri sendiri dan juga orang lain.

Sampai saat ini tidak ada masalah, kemungkinanan besar yang akan jadi masalah kedepannya adalah konflik prioritas antara akademik dan rencana bisnis ini.

“Tapi saya percaya, hidup bukan pilihan, hidup adalah skenario dan manajemen, kita dapat memiliki beberapa hal tanpa harus memilih..”

Berikut essay yang saya ajukan dalam program PMW 2010 kali ini. Semoga bermanfaat..

Doakan saya ya Teman2…
___________________________________________________________

Beberapa waktu yang lalu, kami melakukan sebuah survey wawancara terhadap sejumlah pejalan kaki yang menggunakan trotoar di sepanjang Jalan Jatinegara, Jakarta Timur. Hal ini kami lakukan dalam rangka membantu dosen yang sedang melakukan sebuah riset di bidang transportasi. Apa yang akan kami tuliskan di sini bukanlah pendapat para pejalan kaki mengenai kondisi yang trotoar tersebut yang menyedihkan, tapi pemandangan miris yang jauh lebih menyedihkan dari sekedar trotoar yang tak layak pakai. Kisah inilah yang kemudian menjadi salah satu motivasi terbesar kami ikut dalam Program Mahasiswa Wirausaha (PMW) ini.

Adalah seorang bocah lelaki kecil, yang dalam prediksi kami usianya belum genap menginjak 7 tahun, dengan gerobak kayu besar yang ditarik di punggungnya. Berjalan tertatih diiringi oleh ayahnya yang cacat, menyelusuri pinggiran jalan ibukota mengais rongsokan demi sesuap nasi. Hati kita mungkin tidak akan begitu miris ketika melihat bocah seusianya mengamen dan mengemis di perempatan jalan di Jakarta, memohon belas kasihan para pengguna jalan yang melintas. Kota Jakarta adalah kota dengan gelandangan dan pengemis seperti demikian sebagai pemandangan sehari-hari. Namun tidak dengan bocah kecil ini, mereka tidak sudi memelas dan menggantungkan hidupnya pada belas kasihan orang lain.

Kisah di atas hanyalah sepenggal potret pilu kehidupan di negara tercinta ini. Kita tidak akan pernah tahu bagaimana kondisi nyata bangsa ini jika kita tidak pernah turun langsung ke jalan, membandingkan antara teori dan kenyataan di lapangan. Kisah ini mengajarkan kepada kita banyak hal, mahasiswa yang notabenenya adalah rakyat yang jauh lebih beruntung nasibnya, sudah semestinya tumbuh menjadi pribadi-pribadi mandiri, menjadi agen perubahan (agent of change) dari negara ini. Mengimplementasikan ilmu pengetahuan sedemikian rupa sebagai upaya melakukan perbaikan nasib bangsa ini.

Kenyataan yang terjadi saat ini ternyata tidak demikian. Mahasiswa di zaman sekarang cenderung menggantungkan nasibnya pada perusahaan-perusahaan besar berpenghasilan tinggi (job seeker). Mahasiswa kini lebih sibuk berkompetisi satu sama lain demi memperoleh pekerjaan di perusahaan-perusahaan bonafit multinasional dibandingkan menjadi seorang entrepreneur (job creator). Paradigma ini terus tumbuh subur dan berkembang ketika semua itu ditujukan demi memperkaya diri sendiri. Padahal jika dipikir lebih jauh, keberadaan mahasiswa sebagai bagian dari rakyat akan jauh lebih bermanfaat ketika kita mampu memberdayakan dan memberi manfaat satu sama lain dengan menjadi seorang pembuka lapangan kerja.

Entrepreneur sebagai sebuah pekerjaan terkadang masih dipandang sebelah mata. Ketakutan akan kegagalan dan ketidakberanian mengambil resiko membuat bidang ini menjadi momok bagi mahasiswa pada umumnya. Keberhasilan instan dan kultur pendidikan di perguruan tinggi yang melibatkan banyak perhitungan, membuat mahasiswa berpikir seribu kali untuk terjun ke dunia wirausaha. Padahal mahasiswa dengan core competence yang jauh lebih mumpuni ketimbang seorang bocah penarik gerobak, mempunyai kesempatan lebih besar dalam berkontribusi terhadap kemandirian negeri ini.

Bisa dibayangkan, jika tiap mahasiswa yang lulus dari bangku perkuliahan ini menjadi professional-profesional muda di bidangnya masing-masing, bersinergi satu sama lain dengan multidisiplin ilmu lainnya menciptakan lapangan-lapangan kerja baru di Indonesia. Berapa banyak tenaga kerja yang dapat diserap?. Paling tidak hal ini secara perlahan tapi pasti akan mampu mengurangi permasalahan pengangguran di bangsa ini.

Kemandirian adalah suatu hal yang mutlak dimiliki bangsa ini. Oleh karena itu, mental pribadi kuat harus ditumbuhkan sejak dini pada tiap-tiap jiwa di Negara Indonesia ini, baik kuat secara intrapersonal maupun kuat secara interpersonal. Kuat secara intrapersonal dalam artian mahasiswa harus mampu menjadi mahasiswa yang ahli di bidangnya, serta mandiri dan mampu bertanggungjawb terhadap dirinya sendiri. Sementara kuat secara intrapersonal didefinisikan sebagai sebuah kecerdasan sosial dan kemampuan memberi manfaat bagi sesama. Entrepreneurship dalam hal ini sebagai bidang wirausaha diharapkan mampu menjadi wadah yang nantinya akan melahirkan pribadi-pribadi tangguh yang dimaksud, berkarakter mandiri, pantang menyerah, berjiwa pemimpin, berempati dan berketerampilan sosial, bervisi luas ke depan, cermat dalam perhitungan dan berani mengambil resiko, serta kreatif dan inovatif dalam setiap memecahkan permasalahan yang ada.

Dengan adanya Program Mahasiswa Wirausaha (PMW) ini diharapkan dapat memberi suntikan semangat terhadap peran mahasiswa dalam mewujudkan Indonesia yang lebih baik, yakni Indonesia yang mandiri dan madani.

Comments
  1. justinmythink says:

    wah mantabs sekali abang satu ini…
    saya berdo’a semoga kamu lolos dho…

    lalu mendapat dana sebesar 40 juta…
    ammin..
    hehehee….

  2. cuma 1 kata buat anda bang….
    “amazing”…

    moga cepat wisuda y bang…🙂

  3. silenceraloner says:

    Biar adil semua yang komen baik saya aminin deh!!
    Amiiiinnnnnn!! Hehe

  4. Membangun jiwa wirausaha mandiri, merupakan modal awal untuk sukses.

  5. rokhmah says:

    betul2..betul..betull..
    perlu dicontoh itu..

  6. yeni cahyati says:

    masalahnya bagi mahasiswa yang memiliki jiwa enterpreuner tapi nggak punya kemampuan di bidang finansial buat modal awal gimana geh bang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s