PERSONAL LITERATUR SEORANG MAHASISWA ITB

Posted: July 26, 2010 in ITB, life
Tags:


Dear para pembaca setia blog saya yang budiman dan rupawan,

Maaf jika akhir-akhir ini saya begitu jarang mengupdet blog dikarenakan sesuatu hal dan lain hal.

Untuk memecahkan sebagian besar kebuntuan di kepala, melepaskan semua beban pemikiran di kepala saya yang berebut minta dikeluarkan, maka dengan ini saya akan mengeluarkan salah satu tulisan agak personal, yah orang-orang menyebutnya sebagai Pelit (Personal Literatur). Bolehlah..Pelit orang, Pelit pula kita..

Mari kita mulai dari kondisi saat ini (present) sebelum lebih jauh melebar ke mana-mana, ke masa depan (future) dan masa lalu (past). Udah kek tenses di bahasa Inggris kuliat..Hehe

Yup, sengaja saya beritahu hal ikhwal perihal ini dari awal karena saya takut pembaca tidak siap dengan sistem flashback yang gak karu-karuan yang mungkin saja tercipta dari personal literarur yang saya tulis ini.

Lebih tepatnya saya sedang tidak fokus aka bimbang gundah gulana.
Sebuah status atau kondisi yang tentunya mendekatkan saya padanya. Dengan catatan, “nya” adalah untuk makhluk yang menggoda dan menyesatkan manusia dengan kebimbangan dan keragu-raguan..Ckckckc..(cekikikan setan)

Gak perlu ambil contoh jauh-jauh, mari kita ambil kondisi saat ini (present), terus terang saya sedang makan hati ketika sedang menulis literatur ini. Tepatnya sedang makan hati dengan nasi, sayur dan goreng kornet sapi yang aduhai nikmatnya. Kalau dipikir-pikir, sepertinya saya sedang jatuh hati dengan yang namanya kuliner organ dalaman ini.

Tercatat sudah hampir belasan atau mungkin sudah puluhan kali saya mengkonsumsinya semenjak jaman musim piala 2010 kemarin. Pertama, memang ada rasa jijik-jijik gimana gitu, tapi setelah dibiasakan akhirnya sayapun jatuh hati kepada makanan ini. Mungkin lebih familiar kalau dalam bahasa Jawa dengan istilah “Witing tresno jalaran soko kulino”, yang arti blak-blakannya “Tumbuhnya cinta itu karena terbiasa”. Makanya jika tidak mau jatuh cinta jangan dibiasakan, entar keenakan terus kecanduan dah..Haha..(penarikan kesimpulan subjektif saya)

Sudah Ah, capek saya bermain main dengan hati. Daripada sakit hati mending sakit gigi. Daripada sakit gigi lebih baik tentunya tidak sakit sama sekali aka sehat walafiat, ya nggak??. Kalau boleh mengadopsi kata Pak Ustad, kesehatan mungkin bukanlah sesuatu yang utama, akan tetapi ketiadaannya akan menyebabkan kita kehilangan nikmat dalam menjalankan segala keutamaan dalam hidup ini seperti ibadah kepada Tuhan dan berbuat baik kepada sesama. Maka dari itu kesehatan adalah sesuatu yang mutlak dijaga.

Saya bilang tadi sehat sama walafiat kan ya?? Nah, masalahnya gak semua orang yang sehat itu walafiat. Sebagai contoh mari kita ambil tokoh “saya” yang keren dalam kisah yang juga gak kalah kerennya ini. Dengan tinggi postur 175 cm dan berat 60 kg kurang dikit (pake timbangan pasar soalnya) sebenarnya tidak ada yang salah dengan fisik yang dipinjamkan Tuhan ini. Onderdil lengkap dan tidak ada yang malfungsi. Kalopun boleh mengeluh, maka yang jadi persoalan hanyalah tubuh saya ini yang saya rasa memang agak kerempeng. Transformasi fisik ala elemen “Trust Me It Works” pun sempat saya jalani. Shit-up dan Push-up menjadi makanan sehari-hari. Sempat juga saya mengkonsumsi suplemen penambah massa otot seperti Elemen Gain Mass maupun Appeton Weight Gain, akan tetapi komitmen saya jualah yang akhirnya men-terminate program peningkatan berat badan ini..call me Terminator. Halah!

Komitmen mungkin menurut saya lebih berharga daripada sekedar uang kertas yang ada saat ini. Andai komitmen dan ambisi, dua hal yang “lack of” dalam diri saya tersebut, bisa dibeli, maka akan saya lepas setumpukan uang kartal di dompet saya yang semakin lama kehilangan nilainya untuk menebusnya. Akan saya barter dengan ke-tidak-fokusan saya dalam hal-hal mendetail dalam ilmu sipil ini.
Ngomong-ngomong ilmu sipil, saya jadi teringat dengan Bu Aine. Doi apa kabar ya?? Perasaan udah 3 Minggu gak saya apelin..Hehe

Yup, Ibu Aine adalah dosen transport saya yang dengan sabarnya melakoni perannya sebagai dosen pembimbing saya dalam sekuel kehidupan kali ini. Sebenarnya gak enak hati juga sama Ibunya, secara dia wanita (ya iyalah..) dan sekarang beliau sedang dalam masa kandungan. Sudah selayaknya saya sebagai seorang laki-laki bertanggung-jawab untuk memburu menyelesaikan Tanggungan Akademik-nya aka TA, paling gak sebelum beliau ambil cuti melahirkan. Bukannya jadi trigger, Eh malahan si saya nya santai-santai saja. Tadi malah hampir mau santai ke Pantai (Sempu). Gak “case sensitive” ya saya?? (guagakmautaunya Ter-La-Luuu)

Bahkan karena gak ngambil sks TA di SP saya diketawain, dibilang ibunya emang sengaja gak mau lulus cepat. Padahal beliau bisa saja mengusahakan saya lulus Oktober kalo saya mau katanya. Terkesan saya memang “lost my apettite”. Hehe..

Maaf lah Bu, gak maksud saya merepotin Ibu. Gimana kalo TA nya saya ganti saja dengan seperangkat diapers untuk persedian satu tahun, Bu?? Yang diskon deh..Hahaha (jadi ingat pas mau “nyuap” asisten transport saya yang punya baby juga)

Ngomong-ngomong soal baby, keknya enak ya nimang-nimang anak bayi. Jadi pengen punya juga..Haha
Asal Anda tahu, saya bukanlah orang yang telaten menimang anak kecil. Entah karena takut menjatuhkannya atau mungkin ini memang sudah diwariskan dari Ayah saya yang juga tidak terlalu bakat dengan yang namanya ngurus anak. Kalo boleh flashback ke masa lalu (past), maka Anda akan melihat saya kecil sebagai seorang anak yang “kehilangan” sosok seorang ayah. Saya cenderung lebih dekat dengan paman-paman saya ketimbang ayah kandung saya sendiri. Bukan karena beliau keras ataupun suka memukul, hanya saja mungkin kurangnya perhatian beliau saat itu. Walau bagaimanapun itu hanyalah masa lalu, beliau tetap merupakan figur ayah terhebat yang pernah saya kenal hingga saat ini. Ya itu tadi, karena sudah terbiasa kali ya. Dengan usaha kerasnya jualah beliau dengan sukses menghantarkan saya ke Bandung, Kota Para Mojang ini. “Ah, saya tidak ingin menangis Papa.”

Bandung mungkin bukanlah tempat yang baru bagi beliau. Beliau sempat mengeyam pendidikan D3 di kota ini, hasil kerjasama Institut Teknologi Bandung dan Departemen PU. Sempat pula saya menghabiskan masa kecil dari TK hingga SD di kelas 1, di daerah yang kini dikenal sebagai Cicaheum. Tempat yang terkadang masih saya kunjungi untuk sekedar mengenang masa lalu kami dulu.

Kalo boleh mengkomparasi kehidupan beliau dengan saya saat ini. Maka mungkin saya harus malu. Kemandirian menjadi suatu keharusan di saat itu. Segala sesuatunya baik akademik maupun penghidupan keluarga secara sekaligus menjadi tanggungan yang harus diemban secara bersamaan. Tapi liatlah saya, sang anak, “Generasi Moderen” or Next-J yang seharusnya menjadi role model kehidupan berikutnya, sampai saat ini belum bisa menjadi contoh dan memberikan kontribusi apa-apa bahkan mungkin terhadap dirinya sendiri. Apa sih tanggungan anak kuliahan seperti saya ini. Tanggungan Akademik semata saja sudah menjadi momok yang menakutkan. Malu saya pada leluhur.

Dan saya tentunya gak butuh belas kasihan untuk itu, satu yang saya butuh adalah semangat agar mampu bertahan dan berkembang dalam kondisi saat ini.

Ngomong-ngomong berkembang, beberapa bulan yang lalu saya sempat beli kembang. Gatau nama kembangnya apa, bukan kembang kertas pastinya, tapi punya 2 warna gitu. Satu merah satu putih. Saya beli bunga itu sebenarnya karena kasihan liat penjualnya, udah tua masih harus kerja dan bahkan mengangkat kemana-mana bunga sebanyak itu. Akhirnya ya ibu kos heran-heran saja. “Mau ditaruh di mana Do??” Kata ibu kosan. “Nitip di taman Ibu ya, Bu..” kata saya senyum-senyum gak jelas..Hahaha

Dan liatlah apa yang terjadi pada bunga saya, bukannya tumbuh subur, si bunga layu seperti buah simala-gamalama (laki bukan-wanita bukan), hidup segan mati tak mau. Bagaimana tidak, sang pemilik bunga saja akhir-akhir ini sudah susah bangun pagi. Lagi-lagi gara-gara terbiasa, meninggalkan rutinitas shalat subuh di masjid. Walhasil, kebablasan menjadi kebiasaan. Gimana bunga mau dapat nutrisi di pagi hari kalo “abang”nya selalu meninggi hari. Perumpamaan paling logis dengan kondisi saya saat ini. Kesimpulannya, saya bukan seorang naturalis.

Kalo bukan seorang naturalis, lantas “is” apakah yang pantas buat saya. Seperti yang pernah saya tulis dalam tulisan dan twit saya terdahulu, saya bukan seorang humanis, bukan seorang agamis, bukan seorang atheis, bukan seorang sosialis, bukan seorang liberalis, bukan seorang pesimis, bukan pula seorang optimistis. Apa yang saya mau adalah saya “is” saya. Atau mungkin lebih enak kalo disebut sayais, saya apa adanya dengan kadar saya sendiri. Saya yang suatu saat memiliki karakter dan pendirian. Orang yang mampu bertanggungjawab terhadap keputusan sendiri, mampu menghidupi diri sendiri.

Sendiri? Terkesan egois ya..tapi percayalah, sendiri seperti memiliki kekuatan magis bagi saya. Membuat saya berpikir jernih, mengerti dan memahami masalah apapun yang mendera saya. Tentu saja kesendirian di sini tidak selalu harus berarti menjadi anti-sosial. Kesendirian adalah antibiotik dari keramaian yang kadang gak tentu arah. Sebuah teman penyeimbang hiruk-pikuk dunia.

Ngomong-ngomong teman, sepertinya bukanlah sesuatu yang tabu untuk berbicara mengenai teman hidup di usia saya seperti ini..,kalo kata orang-orang, usia mahasiswa macam saya ini layak disebut usia nikah. Hehe..
Setia dengan status sendiri bukan berarti saya selektif dalam memilih teman hidup. Saya begitu mudahnya menyukai wanita seperti semudahnya saya membenci seorang wanita. Yup, saya a kind of introvert people yang dibekali kemampuan lebih oleh Tuhan untuk mensugesti diri sendiri, hal yang jarang ditemui pada pribadi ekstrovert. Tentu saja kelebihan ini didampingi oleh kelemahan kaum introvert dalam pencitraan emosi.

Kalo ditanya tipe apakah wanita yang kamu sukai??
Sepertinya saya bakal punya jawaban maruk. Menurut saya setiap wanita punya nilai lebih masing-masing di mata seorang pria. Ada kalanya kurangnya aplikasi rasio dalam jiwa wanita bisa menjadi faktor atraktif bagi lawan jenisnya. Ada kalanya pula tindakan kaum hawa yang banyak ditunggangi oleh perasaannya semata itu semacam menjadi hiburan bagi kaum Adam yang sibuk berkutat dengan logika. Itulah gunanya wanita, tulang rusuk sang pelengkap belahan jiwa. Hehe..

Tidak jarang memang tindakan wanita yang “irrasional” jualah kadang yang menjadi penyebab ketidakharmonisan dalam sebuah hubungan. Teman cewe saya pernah nge-twit sebuah quote kek gini “Laki-laki memang sahabat yang baik, mereka datang dengan membawa solusi”. Aneh saja kalo saya bilang, seorang cewe juga pada akhirnya mengakui kelemahan gendernya. Tapi kalo dipikir-pikir memang seperti itulah kejadiannya, tidak jarang wanita menjadi penambah mumet masalah. Ketika laki-laki dihadapkan dengan sebuah permasalahan, wanita lebih cendrung sibuk dengan pertanyaannya ketimbang membantu mencari jawaban. Wanita selalu berupaya mencari alasan dari tindakan seorang pria yang lucunya oleh pria sendiri terkadang tindakan tersebut tidak harus beralasan. Ya, saya lakukan ini karena saya suka. Gak lebih gak kurang.

Soal bahasa perasaan, wanita adalah jagonya. Terlepas dari segala ketidakrasionalitasannya, wanita adalah tempat untuk curhat hati ke hati. Paling gak ibu saya adalah contohnya, dia lah orang yang paling tahu betul dengan kondisi jiwa anaknya. Saya bahkan tidak perlu harus bercerita agar ibu saya tahu bagaimana perasaan saya. Terkadang saya merasa seperti memang ada ikatan yang kuat antara ibu dan anak. Tidak terhitung sudah berapa kejadian ketika saya rindu dengan keluarga, lantas tiba-tiba sudah ada saja panggilan telpon dari ibu saya kurang dari 5 menit setelah saya memikirkannya. Entahlah, ada beberapa hal yang memang terkadang tidak dapat dijelaskan dengan logika, termasuk oleh lelaki sekalipun. Kontak batin yang sama mestinya terjadi pada pria dan wanita yang memang sudah berikatan.

Ngomong-ngomong soal lelaki, makhluk satu ini cendrung menyukai wanita dalam pandangan pertama. Justifikasi “based on cover” memang adalah hal yang lumrah bagi kaum “penganut rasiolism” satu ini. Anda bisa bayangkan bagaimana kalo lelaki dominan di perasaannya, dia bakal tumbuh menjadi gay yang terkenal sangat sensitif dan lembut. So, itu memang sudah default bawaan kaum Adam, menilai sesuatu dari tampilan luaran ketimbang dalaman. Kedewasaan-lah yang kemudian menambah kemampuan justifikasi mereka untuk menilai secara terintegrasi antara content dan cover.

Nah, bagaimana dengan saya??
Kata Ayah saya, tidak baik mengatakan seseorang lawan jenis sebagai “tidak level saya” ,”bukan tipe saya”, dan berbagai ungkapan ketidaksukaan lainnya. Hal ini mungkin demi tidak terjadinya pamalih atau semacamnya. Oleh karena itulah saya lebih prefer menyebut apa yang saya suka saja.
Wanita menurut saya menarik karena aura cantik yang dimilikinya. Dan cantik itu relatif, asal mereka bisa menjadi diri mereka sendiri. Adakala kepolosan, keluguan, sifatnya yang manja dan kekanak-kanakan menjadi magnet yang hebat. Adakalanya sifatnya yang cool dan smart membuat saya penasaran setengah mati. Adakalanya kejutekan, kesombongan dan cerewetnya menjadi kerinduan tersendiri di hati saya. Adakalanya pula ketangguhan, jiwa petualang dan sportivitas yang ada dalam diri mereka semacam sihir bagi jiwa saya. Waduh pusing saya, haruskah saya poligami dan beristri 4 di masa depan (future) agar bisa memiliki semuanya??

Masa depan adalah misteri, gak ada yang tahu pasti..Wait n see saja yak..Hehe
Wanita itu perhiasan dunia. Apapun kepribadiannya, mestinya menjadi raw material yang dapat dipoles lebih lanjut agar menjadi wanita yang sempurna seutuhnya bagi seorang pria tersebut. Begitu juga sebaliknya dengan pria.

Berhubung sudah dijanjikan bahwa lelaki yang baik pasti akan mendapatkan wanita yang baik. Bagaimana kalo kita memperbaiki diri kita, sampai sebisa yang terbaik yang kita lakukan. Gimana Ed?? (makan hatinya udah kelar)

Ngomong-ngomong soal yang terbaik, akhirnya ITB yang katanya Institut Terbaik Bangsa, kembali kedatangan pasokan putra putri terbaik bangsa ini. Serasa udah tua saya, melihat jiwa-jiwa muda ini mengisi ruang2 kampung gajah yang mulai sepi ditinggal beberapa penghuninya beberapa waktu yang lalu. Kalo istilah organisasinya sih massa mengalir. Well, not bad lah. Kita lihat dinamika apa yang akan ditawarkan calon pembaharu-pembaharu kampus ini. Paling gak rupa mahasiswi-mahasiswi yang masih fresh akan mengisi relung hati kami para penunggu kampus ganesha. Hihihi..

Ngomong-ngomong tentang ngomong-ngomong, sepertinya saya sudah kebanyakan ngomong. Tak kurang ada 8 frase ngomong-ngomong dalam postingan kali ini. Udah dulu ngomong-ngomongnya yak..^^

Sumber gambar dari sini dan google

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s