Gak Ada yang Sia-sia

Posted: August 13, 2010 in life

H-1 Ramadhan saya melakukan perjalanan gak jelas (tentu saja bukan perjalanan spiritual),
Berangkat dari Bandung tadi niatnya cuma mau refreshing bentar ke Kampung Daun sama Kampung Gajah.
Sesampainya di Kampung Daun ternyata keinginan saya tidak berhenti, ada rasa penasaran mau tahu ujung jalan Parongpong ini sampai ke mana.

Akhirnya saya bejek terus motor saya sampai ke daerah Cisarua.
Cisarua terus turun,turun dan turun.
Jalannya sangat panjang dan lurus, sampai-sampai saya cukup memainkan rem tanpa memutar gas sama sekali.
Karena cukup lama jalan, akhirnya saya berhenti minggir mau ngecek HP kalo-kalo saja ada pangilan masuk.

Pas check HP, tau-au udah ada sms
“Ini yang namanya edo. Saya menemukan STNK sodara?”

Entah apa maksud tanda tanya diakhir kalimat itu yang pasti sudah membuat saya sadar kalo saya sudah kehilangan STNK saya.
Akhirnya dengan suara samar2 di tepi jalan saya minta alamat si penemu dan berjanji akan segera menjemputnya.

“Saya lagi di rumah sekeloa tengah rt1 rw 4 nomor 20. Dengan pak enjang?”

Lagi-lagi dengan tanda tanya..hehe (cara menulis sms yang aneh)

Akhirnya saya pun mengajak teman saya (yang tidak ingin namanya disebutkan di sini) untuk mengarungi kawasan sekeloa tangah yang terkenal padat itu. Berawal dari jalan masuk yang masih bisa dilewati mobil sampe gang-gang sempit yang hanya bisa dilewati oleh satu motor (itupun dengan susah payah beloknya), tanya sana-sini, akhirnya kami pun sampai di rumahnya Pak Enjang.

Pak Enjang yang kami cari-cari ternyata seorang penjahit. Melihat kondisi kontrakannya, saya teringat dengan kosan saya. Bedanya CPU saya diganti sama mesin jahit. Terus di tengah kamar terbentang kasur yang juga berseprei Inter milan seperti kamar saya. Bedanya kamar ini dihuni tidak hanya oleh beliau, tetapi juga berbagi dengan istri dan beberapa anaknya. Pak Enjang sangat ramah. Dia pun bercerita perihal penemuan STNK tersebut. Ternyata STK nya ditemukan di sekitar kebun binatang ITB. Saya pikir karena saya lupa masukin ke dompet pas mau keluar parkiran sipil, malah saya biarin nyaplok di tangki motor saya. Pas melaju kencang itulah sepertinya STNK nya lepas terbawa angin dan jatuh di bonbin. Untung gak masuk kandang Harimau yak? Haha..

Selesai bersilaturahmi, akhirnya saya pun pamit kepada Pak Enjang dan keluarga,
Saya tinggalkan uang rokok sekedarnya sebagai ucapan terima kasih kepada si Bapak (meski sempat ditolak sama beliau).

Saya cuma bisa bilang Alhamdulillah, bayangkan saja berapa uang dan waktu yang harus saya korbankan kalo saja sampai harus mengurus STNK ini dari awal lagi.

Well,ternyata gak ada yang sia-sa dengan usaha preventif saya selama ini. Melabeli STNK yang beratasnamakan Ayah saya di Pekanbaru tersebut, dengan nama dan nomor hape saya.

Tapi tentu saja usaha itu juga ga akan ada gunanya kalo saja STNK tersebut tidak ditemukan oleh orang yang masih punya kepedulian seperti Pak Enjang. Terima Kasih Pak!!

Comments
  1. d.i.p says:

    kirain mau cerita soal perjalanan ke parongpongnya ga taunya cerita soal STNK yang ilang..eimmmm ceroboh kaliiii

  2. silenceraloner says:

    Maafkan saya kalo ternyata pembaca kecewa..Hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s