ORPHAN

Posted: August 22, 2010 in film
Tags:

Namanya Esther. Umurnya 9 tahun. Untuk gadis seusianya, boleh dibilang dia lebih dewasa daripada gadis kebanyakan. Cara berpakaian, tingkah lakunya dan bahkan pola pikirnya, jauh berbeda dengan anak-anak pada umumnya. Hal inilah yang kemudian membuat Kate dan John tertarik untuk mengadopsi Esther. Yup, Esther memang seorang yatim piatu .

Dari pengakuan suster kepala panti asuhan, Easther sebenarnya berasal dari Rusia. Kemudian oleh sebuah keluarga, ia diadopsi dan di bawa ke Amerika. Naasnya, keluarga baru yang membawanya ke Amerika itu tewas dalam sebuah insiden kebakaran. Hanya Esther yang berhasil selamat dari insiden tersebut. Peristiwa inilah yang kemudian pada akhirnya membawa Esther masuk ke panti asuhan ini.

Kate sebenarnya tidak begitu peduli dengan latar belakang kehidupan Esther. Baginya, mengadopsi gadis dengan perilaku yang baik (good manner) dan dewasa seperti Esther sudah lebih dari cukup untuk memenuhi rasa kehilangan akibat meninggalnya anaknya terdahulu. Esther pun resmi bergabung dalam keluarga Kate dan John, menjadi kakak sekaligus dari Daniel dan Max.

Kehadiran Esther sendiri disambut dengan sangat welcome oleh Max, putri bungsu dari keluarga ini yang terlahir tuna rungu. Apalagi melihat usaha keras yang dilakukan Esther untuk belajar bahasa isyarat, membuat Max serasa memiliki kecocokan batin dengan sang kakak adopsinya ini. Sementara Daniel, hanya menyambut dingin kehadiran Esther dalam keluarga ini.

Di masa awal kedatangannya, Esther menjadi pusat curahan kasih sayang di keluarga ini. Daniel sendiri yang sedikit cemburu, tentunya sangat bermasalah dengan kondisi ini. Bagaimana tidak, orangtuanya kini harus membagi kasihnya dengan orang lain yang sangat asing baginya. Tidak hanya di rumah, bahkan di sekolah, baginya keberadaan Esther menjadi penyebab ia diolok-olok oleh teman-temannya. Ini tak lain dan tak bukan karena tampilan Esther yang “old fashioned” dengan penampilannya, termasuk ribbon yang selalu dipasang di leher dan dipergelangan tangannya.

Kehadiran Esther sendiri di sekolah barunya tidak disambut dengan baik sebagaimana Esther diterima dalam keluarga Kate. Ejekan demi ejekan harus diterimanya karena tampilannya yang memang tidak biasa itu. Hal ini membuatnya menjadi pribadi tertutup dan tidak memiliki teman.

Peristiwa demi peristiwa naas pun akhirnya terjadi, dimulai dari jatuhnya Brenda, teman sekelas yang sering mengejek dan mempermainkan Esther, tewasnya Suster Abigail Sang suster kepala panti asuhan, hingga insiden kebakaran yang hampir merenggut nyawa Daniel.

Kate sendiri sebenarnya menaruh sedikit curiga pada Esther. Hingga pada akhirnya, Kate menemukan sebuah Kitab Injil milik Esther yang menjadi petunjuk awal jati diri Esther sebenarnya. Siapakah Esther?? Benarkah ia dalang dari semua kejadian ini??

Bagi yang ingin tahu jawabannya silahkan nonton sendiri..,seperti yang tertulis dalam posternya : “There’s something wrong with Esther

Dan menurut saya label itu memang ada benarnya..,Esther bukan anak yatim piatu biasa. Ada banyak hal tersembunyi dalam lukisannya, di balik ribbon di balik leher serta pergelangan tangannya, termasuk di dalam dirinya sendiri.

Apakah itu??
Selamat Penasaran..Hehe

PS: Esther is the coolest girl character in the movie that I’ve ever met. Smart, mature, good manner, cool and mysterious. I love her. Until I knew that Esther isn’t Esther..

Comments
  1. dloven says:

    tapi masih bingung, apa esther kena suatu penyakit sehingga dia gag bisa tumbuh layaknya wanita normal..truz penyakit apa?😀

  2. silenceraloner says:

    Kalo dari yang saya tonton..si esther nya menderita Hypotuitari. Kaya kelainan genetik gitu, sehingga si esther yang sudah dewasa ini akhirnya kejebak di tubuh anak2..

  3. ono says:

    YG NAMANYA FILM KLO MO DIBUKTIKAN SECARA ILMIAH GAK BAKALAN KTEMU.

    YG PENTING KITA NIKMATIN AJA KISAHNYA. OK

  4. ono says:

    namanya juga hasil kreasi manusia. nikmati tp jgn diyakini !

  5. silenceraloner says:

    @ono
    Yang jangan dibuktikan secara ilmiah memang apanya Mas??
    Yang jangan diyakini apanya Mas?? (kok agak bertolak belakang statemen satu dengan duanya…Hehe..)
    Biasanya kan yang memilih untuk tidak mencari pembuktian akan memilih untuk cukup meyakininya saja…CMIIAW

    Nikmati tapi jangan diyakini?
    Kayanya kembali ke masing2 audiense deh,Mas..
    Soalnya cara orang menikmati sesuatu itu gak sama satu sama lain…

    Ketika saya kecil saya meyakini bahwa satria baja hitam itu nyata adanya…dan keyakinan tersebut menuntun saya untuk memetik nilai-nilai luhur (nilai universal) yang ada di film tersebut.

    Bayangkan kalo saat itu saya sudah berpikiran…”Gilak, ini orang yang pake kostum serangga norak, ga kepanasan apah, syuting film beginian??”
    Di mana enjoynya??

    Hal serupa juga terjadi ketika saya menonton film hantu…sampai sekarang saya tidak pernah bisa menikmati film semacam ini karena di benak saya sudah tertanam bahwa yang memerankah hantu tersebut adalah aktor/aktris, bukan hantu sebenarnya.

    Cukup dinikmati di sini….semoga maksudnya bukan sekedar menjadikan film sebagai tontonan semata, ya..

    Akan lebih baik apabila sebuah film dapat menjadi tuntunan buat kita, yang ditandai dengan adanya learning point yang dapat diperoleh dari film tersebut…Hehe..😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s